Sejarah Kerajaan Demak

masa kejayaan kerajaan demak

Sejarah Kerajaan Demak – Halo sobat pembaca sekalian kembali lagi bersama kami di portaldemisterios.com yang dimana kali ini kami akan membahas tentang kerajaan demak nih sobat. Mulai dari sejarahnya, letak kerajaannya, peninggalannya, raja-raja yang pernah menjabat, masa kejayaannya sampai masa keruntuhannya, lengkap bukan, yuk langsung simak deh penjelasannya dibawah ini.

peninggalan kerajaan demak

Membahas tentang Kerajaan Demak, kita tidak bisa melupakan peranan dari kerajaan ini sebagai kerajaan yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Kekuasaan kerajaan Demak di Jawa tidak lah berlangsung sangat lama, lebih kurang kerajaan ini berdiri selama 79 tahun saja dan hanya lima raja saja yang pernah memerintah.

Penyebaran ajaran agama Islam di tanah Jawa itu diperkuasai dengan kekuasaan kerajaan Demak yang dilakukan oleh wali yang berjumlah sembilan atau yang biasa kita dikenal dengan nama Wali Sanga. Para wali yang dikirimkan ke berbagai daerah yang berada didalam sisa dari kekuasaan sebuah kerajaan Hindu dan juga Budha yang ada di pulau Jawa. Tugas mereka adalah mengislamkan seluruh orang di tanah Jawa dan daerah itu akan masuk dari wilayah kerajaan Demak.

Nah ini lah sedikit sejarah dari kerajaan Demak, yuk langsung simak penjelasannya.

Sejarah Kerajaan Demak

Kerajaan ini berlokasi yang berda di pesisir utara dari Pulau Jawa, Demak merupakan salah satu kadipaten dari Kerajaan yang besar yaitu Majapahit. Akibat kemunduran dipolitik Majapahit, terjadi lah sebuah kekacauan didalam negeri yang masalah itu disebabkan dengan perebutan kekuasaan. Dikarenakan lokasinya yang begitu strategis kerena jalurnya sebagai jalur pelayaran, Demak tidaklah terpengaruh dengan kekacauan itu dan sudah menjadi daerah mandiri.

Dalam sejarah tanah Jawa, banyak sekali yang menyebutkan Kerajaan Demak iyalah pengganti dari Kerajaan Majapahit. Dikarenakan banyak sekali yang meyakini si pendiri dari kerajaannya adalah putra dari raja Majapahit yang paling akhir. Kepercayaan inilah yang mempermudah berdirinya kerjaan Demak yang menjadi sebuah kerajaan.

Letak Dari Kerajaan Demak

Berdasarkan studi yang dilakukan oleh IAIN Walisongo, di Jawa Tengah, pada tahun 1974, ada prediksi 3 wilayah yang menjadi letak dari Kerajaan Demak, antara lain sebagai berikut:

  • Bukti yang kesatu menyebutkan tidak ada bekas dari Kesultanan atau Kerajaan Demak. Hasil dari penelitian yang ini menjelaskan apabila kepentingan siRaden Patah selama ada diDemak hanyalah menyiarkan ajaran agama Islam saja. Sementara itu tempat tinggalnya iyalah sebuah rumah biasa yang alih-alihnya sebuah istana megah seperti yang banyak dikatakan. Masjid yang didirikan oleh Wali Songo itu hanya dianggap dengan lambang kesultanan saja;
  • Bukti yang kedua menyebutkan bahwa masjid persembahan dari Wali Songo itu terletak tidak jauh dari istana demak. kerajaan ataupun keraton Demak itu diperkirakan ada di sebuah tempat yang kini menjadi sebuah lokasi dari Lembaga Permasyarakatan yang berada disebelah timur dari Alun-alun. Disebut-sebut oleh pihak Belanda itu menghilangkan sebuah kesan dari keraton yang ada di tempat tadi. Anggapan itu didasarkan dari sebuah penemuan.
  • Bukti yang ketiga yaitu menjelaskan letak dari istana atau keraton yang berhadapan langsung dengan Masjid Agung Demak; yang menyeberangi sebuah sungai dengan adanya dua buah pohon pinang. Banyak sekali masyarakat yang percaya apabila di antara dari kedua pohon itu terdapat sebuah makam dari Kiai Gunduk.

Peninggalan Kerajaan Demak

Sejumlah peninggalan dari sejarah kerajaan ini menjadikan bukti sebuah keberadaan dari Kerajaan Demak. Sebagian peninggalannya di antaranya itu masih berdiri dan juga disimpan sampai zaman sekarang, antara lain sebagai berikut:

  • Masjid Agung Demak. Bangunan ini iyalah sebuah peninggalan yang sangat terkenal dan juga menjadi saksi bisu dari kejayaan Kerajaan Demak. Masjid ini sempat mengalami sebuah renovasi dan juga dikenal dengan keunikan dari gaya arsitekturnya yang begitu sarat akan nilai filosofi;
  • Pintu Bledek. Kata bledek sendiri itu berarti yakni petir yang membuat peninggalan yang satu ini kerap disebut juga sebagai Pintu Petir. Yang membuatnya yaitu Ki Ageng Solo pada tahun 1466 yang menjadikan sebuah pintu utama Masjid Agung Demak. Meskipun sudah tidak dipakai lagi, Pintu Bledek ini masih dapat dilihat oleh pengunjung;
  • Soko Guru atau Soko Tatal. Soko Guru adalah sebuab tiang yang berdiameter 1 meter dan berperan untuk penyangga dari masjid. Ada 4 Soko Guru yang dipercaya itu dibuat oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk penyangga dari Masjid Agung Demak;
  • Dampar Kencana. Dampar Kencana adalah sebuah singgasana para raja atau sultan yang sudah pernah memimpin dikerajaan Demak. Peninggalan ini pernah dijadikan mimbar khotbah sebelum peninggalan ini disimpan di Masjid Agung Demak.

Raja-Raja yang Pernah Menjabat di Kerajaan Demak

Tercatat ada lima orang yang pernah memimpin kerajanaa Demak, yaitu sebagai berikut:

1. Raden Patah

Menurut dari sumber yang tepercaya, Raden Patah disebutkan sebagai keturunan yang terakhir dari raja di Majapahit yang bernama Brawijaya.

Gelar yang dipakai untuk Raden Patah adalah Senopati Jumbang Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Palembang Panatagama. Terselip dari nama sebuah daerah disumatra yaitu Palembang yang berada di tengah gelarnya itu dikarenakan adalah nama kota kelahiran si Raden Patah.

Raden Patah sudah memerintah kerajaan Demak itu selama 43 tahun. Diawali dari sejak berdirinya kerajaan ini pada 1475 Masehi sampai dia turun tahta pada tahun 1518 Masehi.

2. Pati Unus

Pati Unus itu menggantikan ayahnya sebagai raja dari kerajaan Demak yang ke-2 dan ia naik tahta pada 1518 Masehi. Nama lain Pati Unus yang banyak dikenal luas iyalah Pangeran Sabrang Lor. Dikarena kan keberanian dari Pati Unus dalam memimpin sebuah armada laut yang akan menyerang Portugis yang pada saat itu menduduki Malaka.

Masa kepemimpinan dari Pati Unus itu berumur termasuk singkat, hanya lah selama tiga tahun saja. Pada tahun 1521 Masehi, si penyeberang laut itu mangkat sehingganya tahta kerajaan akan diserahkan pada adiknya.

3. Sultan Trenggana

Trenggana iyalah putra dari Raden Patah dan juga naik tahta yang menggantikan kakaknya yaitu Pati Unus, pada 1521 Masehi. Setelah ia menjadi raja, Trenggana memakai gelar sultan. Sultan Trenggana iyalah raja Demak yang sangat besar. Penyebabnya yaitu keberhasilan dari utusan militer yang ia kirimkan untuk merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis.

Selain itu juga, pasukan Sultan Trenggana itu berhasil untuk mengalahkan kerajaan-kerajaan Hindu dan juga Budha yang ada di pulau Jawa, kemudian ia menjadikannya wilayah itu bagian dari kekuasaan Demak.

Penguatan kekuasaan itu dilakukan dengan cara menikahkan seseorang putrinya pada Bupati Madura dan juga mengambil si Joko Tingkir atau putra dari bupati Pengging yang dijadikan sebagai menantu. Masa pemerintahan dari sultan Trenggana itu pada saat ia terbunuh dalam pertempuran di Pasuruan pada 1546 Masehi.

4. Sunan Prawata

Seusai pergantian kepemimpinan di Demak itu diwarnai dengan sengketa antara Pangeran Surowito dan Raden Mukmin. Persengketaan ini berakhir atas terbunuhnya si Pangeran Surowito selepas ia pulang dari masjid sehabis menunaikan ibadah shalat Jumat pada 1546 Masehi.

Tampaknya kekuasaan jatuh kepada Raden Mukmin yang setelah itu naik tahta dan mendapatkan gelar sebagai Sunan Prawata. Masa dari pemerintahannya itu hanyalah berlangsung selama 1 tahun saja yang berakhir dikarenakan ia dibunuh oleh Arya Penangsang yang dia membalas dendamnya atas kematian dari ayahnya.

5. Arya Penangsang

Setelah membunuh si Sunan Prawata, Arya Penangsang yang menduduki tahta raja dan juga memerintah kerajaan selama tujuh tahun. Pada masa kepemerintahan Arya Penangsang dipenuhi ketidakpercayaan pemimpin daerah-daerah dari kekuasaan Demak. Hingga pada akhirnya Arya Penangsang itu terbunuh pada tahun 1554 Masehi dalam pemberontakan Adipati Pajang, Joko Tingkir.

Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Kerajaan Demak dikenal juga dengan kerajaan yang terkuat yang ada di tanah Jawa pada awal abad yang ke-16. Seperti yang sudah disebutkan, Sultan Trenggono iyalah sosok yang telah membawa kerajaan ini pada masa kejayaannya. Bukan hanya Sunda Kelapa saja, tapi wilayah-wilayah lain contohnya Tuban, Surabaya, Madiun, Malang, Pasuruan, dan juga kerajaan Hindu yang terakhir di pulau Jawa yakni Blambangan, ia berhasil kuasai.

Sultan Trenggono juga telah melakukan sebuah pernikahan politik yaitu lewat perjodohan dengan Pangeran Hadiri dan puterinya, Pangeran Paserahan dan putrinya yang memerintah di daerah Cirebon; Fatahillah dengan adiknya, Joko Tingkir juga dengan adiknya. Sultan Trenggono itu gugur selepas dari pertempuran yang menaklukkan Pasuruan pada tahun 1946 dan posisinya itu lantas digantikan oleh Sunan Prawoto.

Masa Keruntuhan Kerajaan Demak

Kekacauan yang terjadi di Kerajaan Demak itu mulai terjadi atas wafatnya Sultan Trenggono. Sejumlah calon raja itu bertikai, yang diantaranya itu putra Sultan Trenggono yakni Sunan Prawoto, dan juga Arya Penangsang yakni putra dari Pangeran Sekar Ing Seda Lepen.

Sunan Prawoto itu membunuh si adik tirinya dari Sultan Trenggono, sementara itu juga Arya Penangsang yang mendapatkan dukungan dari Sunan Kudus yang selaku gurunya itu untuk merebut kembali takhta Demak. Dia juga mengirimkan si Rangkud, anak buahnya yang akan membalaskan dendam atas dari kematian sang ayah.

Ratu Kalinyamat, yang juga dibantu oleh Joko Tingkir atau Hadiwijaya beserta juga menantu dari Sultan Trenggono, itu mengangkat senjata untuk melawan si Arya Penangsang. Ketika Arya Penangsang itu berhasil dihabisi, Kerajaan Demak yang akhirnya jatuh pada tangan Pajang pada tahun 1586.

Demikian lah pembahasan kali ini semoga dapat bermanfaat bagi kalian dan syukron telah membaca dan juga berkunjung.

Baca Juga Lainnya:

Related Post